Senin, 26 November 2012

Peran Guru dalam Pengembangan Kurikulum


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan hal yang penting bagi suatu negara untuk menjadi negara maju, kuat, makmur dan sejahtera. Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak bisa terpisah dengan masalah pendidikan bangsa. Menurut Mulyasa (2006:3) ”Setidaknya terdapat tiga syarat utama yang harus diperhatikan dalam pembangunan pendidikan agar dapat berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia (SMAM) yakni: (1) sarana gedung, (2) buku yang berkualitas,
(3) guru dan tenaga kependidikan yang yang professional.
Guru memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Di dalam kelas guru malaksanakan dua kegiatan pokok yaitu kegiatan mengajar dan kegiatan mengelola kelas. Kegiatan mengajar pada hakikatnya adalah proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa. Semua komponen pengajaran yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, metode, alat dan sumber, serta evaluasi diperankan secara optimal guna mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelum pengajaran dilaksanakan.
Pengelolaan kelas tidak hanya berupa pengaturan kelas, fasilitas fisik dan rutinitas. Kegiatan pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakan dan mempertahankan suasana dan kondisi kelas. Sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Misalnya memberi penguatan, mengembangkan hubungan guru dengan siswa dan membuat aturan kelompok yang produktif.
Di kelaslah segala aspek pendidikan pengajaran bertemu dan berproses. Guru dengan segala kemampuannya, siswa dengan segala latar belakang dan sifat-sifat individualnya. Kurikulum dengan segala komponennya, dan materi serta sumber pelajaran dengan segala pokok bahasanya bertemu dan berpadu dan berinteraksi di kelas. Bahkan hasil dari pendidikan dan pengajaran sangat ditentukan oleh apa yang terjadi di kelas. Oleh sebab itu sudah selayaknyalah kelas dikelola dengan bagi, professional, dan harus terus-menerus.
Guru harus memiliki, memahami dan terampil dalam menggunakan macam-macam pendekatan dalam manajemen kelas, meskipun tidak semua pendekatan yang dipahami dan dimilikinya dipergunakan bersamaan atau sekailgus. Dalam hal ini, guru dituntut untuk terampil memilih atau bahkan memadukan pendekatan yang menyakinkan untuk menangani kasus manajemen kelas yang tepat dengan masalah yang dihadapi.
Oleh karena hal di atas, maka dalam makalah ini akan dibahas mengenai salah satu pendekatan dalam manajemen kelas yaitu pendekatan instruksional dan pengaplikasiannya pada jenjang Sekolah Menengah Atas.

1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana peranan guru dalam pengembangan kurikulum?
2. Bagaimanakah pendekatan instruksional dalam menejemen kelas?
3. Bagaimanakah aplikasi pendekatan instruksional pada Sekolah Menengah Atas (SMA)?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui peranan guru dalam pengembangan kurikulum
2. Mengetahui pendekatan instruksional dalam menejemen kelas
3. Mengetahui aplikasi pendekatan instruksional pada Sekolah Menengah Atas (SMA)



BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Bagaimana peranan guru dalam pengembangan kurikulum
Kurikulum memiliki dua sisi yang sama penting, yaitu kurikulum sebagai dokumen dan kurikulum sebagai implementasi. Sebagai sebuah dokumen kurikulum berfungsi sebagai pedoman bagi guru dan kurikulum sebagai implementasi merupakan realisasi dari dokumen dalam bentuk kegiatan pembelajaran di kelas. Keduanya merupakan dua hal yang tak terpisahkan, ada kurikulum berarti ada pembelajaran, dan sebaliknya ada pembelajaran ada kurikulum.
            Implementasi kurikulum memerlukan seseorang yang berperan sebagai pelaksananya. Guru merupakan factor penting dalam implementasi kurikulum karena ia merupakan pelaksana kurikulum. Karena itu guru dituntut memiliki kemampuan untuk mengimplemntasikannya, tanpa itu Kurikulum tidak akan bermakna sebagai alat pendidikan, dan sebaliknya pembelajaran tidak akan efektif tanapa kurikulum sebagai pedoman. Dengan demikian guru menempati posisi kunci dalam implementasi kurikulum.
Selanjutnya dalam proses pengembangan kurikulum peran guru lebih banyak dalam tataran kelas. Murray Print (1993) mengemukakan peran guru dalam tingkatan tersebut sebagai berikut :
1.      Sebagai implementer, guru berperan untuk mengaplikasikan kurikulum yang sudah ada. Di sini guru hanya menerima berbagai kebijakan perumus kurikulum. Guru tidak memiliki kesempatan baik untuk menentukan isi kurikulum maupun menentukan target kurikulum. Peran guru hanya sebatas menjalankan kurikulum yang telah disusun. Peran ini pernah dilaksanakan di Indonesia yaitu sebelum reformasi, yaitu guru sebagai implementator kebijakan kurikulum yang disusun secara terpusat, dituangkan dalam Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP). Dalam GBPP yang berbentuk matrik telah ditentukan dari mulai tujuan yang harus dicapai, materi pelajaran yang harus disampaikan, cara yang harus dilakukan, hingga alokasi waktu pelaksanaan. Dalam pengembangan kurikulum guru dianggap sebagai tenaga teknis yang hanya bertanggung jawab dalam mengimplementasikan berbagai ketetntuan yang ada. Kurikulum bersifat seragam, sehingga apa yang dilakukan guru di Indonesia bagian timur sama dengan apa yang dilakukan guru di Indonesia bagian barat. Dengan terbatasnya peran guru di sini, maka kreatifitas guru dan inovasi guru dalam merekayasa pembelajaran tidak berkembang. Guru tidak ada motivasi untuk melakukan berbagai pembaruan. Mengajar mereka anggap sebagai tugas rutin dan keseharian, dan bukan sebagai tugas profesional.

2.      Pada peran ini guru memiliki peran lebih dari sekedar pelaksana kurikulum, tetapi sebagai penyelaras kurikulum dengan karakteristik dan dan kebutuhan siswa dan kebutuhan daerah. Guru diberikan kewenangan untuk mnyesuaikan kurikuum dengan kebutuhan daerah ataupun karakteristik sekolah. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang sekarang dikembangkan di Indonesia, terdapat peran guru dalam fase ini, yaitu bahwa para perancang kurikulum hanya menentukan standar isi sebagai standar minimal yang harus dicapai, bagaimana implementasinya, kapan waktunya, dan hal-hal teknis lainnya ditentukan oeh guru. Dengan demikian peran guru sebagai adapter lebih luas dibandingkan dengan peran sebagai implementer.

3.      Dalam tingkat ini guru berperan sebagai pengembang kurikulum, guru memiliki kewenangan dalam mendesain sebuah kurikulum. Guru tidak hanya bisa menentukan tujuan dan isi pelajaran yang akan disampaikan, tetapi bahkan dapat menentukan strategi apa yang harus dikembangkan dan system evaluasi apa yang akan digunakannya. Sebagai pengembang kurikulum guru sepenuhnya dapat menyusun kurikulum sesuai dengan karakteristik, misi dan visi sekolah/madrasah, serta sesuai dengan pengalaman belajar ayang diperlukan anak didik. Dalam KTSP peran ini dapat dilihat dalam pengembangan kurikulum muatan lokal. Dalam pengembangan kurikulum muatan lokal, sepenuhnya diserahkan kepada masing-masing satuan pendidikan, karena itu kurikulum yang berkembang dapat berbeda antara lembaga yang satu dengan lembaga yang lainnya.

4.      Fase terakhir adalah peran guru sebagai peneliti kurikulum (curriculum researcher). Peran ini dilaksanakan sebagai bagian dari tugas professional gurub yang memiliki tanggung jawab dalam meningkatkan kinerjanya sebagai guru. Dala mperan ini guru memiliki tanggung jawab untuk menguji berbagai komponen kurikulum, misalnya menguji bahan-bahan kurikulum, menguji efektivitas program, strategi maupun model pembelajaran, termasuk mengumpulkan data tenatang keberhasilan siswa mencapai target kurikulum. Salah satu metode yang dianjurkan dalam penelitian adalah metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yakni metode peneitian yang berangkat dari masaah ayang dihadapi guru dalam implementasi kurikulum. Melalui PTK, guru berinisiatif melakukan penelitian sekaligus melaksanakan tindakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Dengan demikian, PTK merupakan salah satu metode yang tidak hanya menambah wawasan guru dan menambah profesionalismenya, tetapi secara terus-menerus dapat meningkatkan kualitaskinerjanya.

2.2 Definisi Pendekatan Instruksional
Pendekatan instruksional adalah pendekatan yang berdasarkan kepada pendirian bahwa pengajaran yang dirancang dan dilaksanakan dengan cermat akan mencegah sebagian besar masalah manajerial kelas. Pendekatan ini berpendapat bahwa manajerial yang efektif adalah hasil dari perencanaan pengajaran yang bermutu. Dengan demikian peranan guru adalah merencanakan dengan teliti pelajaran yang baik, kegiatan belajar yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan setiap peserta didik.
Para penganjur pendekatan instruksional dalam manajemen kelas cenderung memandang perilaku instruksional guru mempunyai potensi mencapai dua tujuan utama manajemen kelas. Tujuan itu adalah:
1) Mencegah timbulnya masalah manajerial,
2) Memecahkan masalah manajerial kelas.
Cukup banyak contoh yang membuktikan bahwa kegiatan belajar-mengajar yang direncanakan dan dilaksanakan dengan baik adalah merupakan faktor utama dalam pencegahan timbulnya masalah manajemen kelas. Sebaliknya banyak kenyataan yang mendukung pendirian bahwa kegiatan belajar-mengajaryang direncanakan dan dilaksanakan dengan tidak baik adalah penyebab utama timbulnya masalah manajemen kelas. Oleh karena itu, para pengembang pendekatan instruksional menyarankan guru dalam mengembangkan strategi manajemen kelas harus memperhatikan hal-hal berikut:
1) Menyampaikan kurikulum dan pelajaran yang menarik, relevan, dan sesuai
2) Menerapkan kegiatan yang efektif
3) Menyediakan daftara kegiatan rutin kelas
4) Memberikan pengarahan yang jelas
5) Menggunakan dorongan yang bermakna
6) Memberikan bantuan mengatasi rintangan
7) Merencanakan perubahan lingkungan
8) Mengatur kembali struktur situasi
Menyampaikan kurikulum, pelajaran yang menarik, relavan dan sesuai secara empiris dianggap sebagai penanggal perilakau menyimpang para peserta didik didalam kelas. Di samping itu, penelitian-penelitian menemukan bukti-bukti bahwa kunci keberhasilan manajemen kelas ialah kemampuan guru mempersiapkan dan menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar. Hal ini akan mncegah perhatian yang kurang, kebosanan, perilaku menyimpang. Guru yang berhasil ialah guru yang menyajikan pelajaran yang disiapkan dengan baik, yang berlangsung dengan lancar, dan dengan tempo yang baik, tepat dan jelas arahnya, memberikan kegiatan yang sesuai dengan kemampuan dan minat peserta didik.
Menerapkan kegiatan yang efektif adalah kemampuan guru mengatur arus dan tempo kegiatan kelas oleh banyak orang sehingga mencegah peserta didik melalaikan tugasnya. Kegiatan guru yang meloncat-loncat (mendesak, tergantung, terputus, berubah arah), bertele-tele, dan terpisah-pisah adalah kegiatan-kegiatan yang tidak efektif, dan akan mengundang peserta didik untuk menyimpang.
Menetapkan kegiatan rutin kelas adalah kegiatan sehari-hari yang perlu dipahami dan dilakukan oleh peserta didik. Informasi kegiatan ini disampaikan guru pada awal pertemuan dengan peserta didik di kelas. Penjelasan secukupnya mengenai harapan guru yang berkaitan dengan kegiatan rutin kelas merupakan langkah yang menentukan efektivitas manajemen kelas dan pengembangan kelas yang produktif. Proses ini membatasi kemungkinan timbulnya masalah manajemen kelas seminimal mungkin.
Memberikan pengarahan yang jelas adalah kegiatan mengkomunikasikan harapan-harapan yang diinginkan guru. Instruksi yang jelas, sederhana, ringkas, tepat sasaran, sistematis akan membantu efektivitas manajemen kelas sehingga masalah-masalah menyimpang yang disebabkan oleh pengarahan yang buruk dapat dihindari.
Memberikan dorongan yang bermakana adalah suatu proses dimana guru berusaha menunjukan minat yang sungguh-sungguh terhadap perilaku peserta didik yang menunjukan tanda-tanda kebosanan dan keresahan. Kegiatannya misalnya, guru dapat mendekati peserta didik, memeriksa pekerjaannya, memberikan penghargaan pada usahanya, dan memberikan saran-saran perbaikan lebih lanjut. Dengan cara ini guru membantu peserta didik meneruskan aktifitasnya dan mencegah timbulnya perilaku menyimpang.
Memberikan bantuan mengatasi rintangan adalah bentuk pertolongan yang diberikan guru untuk membantu peserta didik menghadapi persoalan yang mematahkan semangat, pada saat mereka benar-benar memerlukannya. Proses bantuan dilaksanakan sebelum situasi berkembang hingga tidak dapat dikuasai. Bantuan mengatasi rintangan ini adalah cara yang sangat bermanfaat untuk mencegah perilaku mengganggu.
Merencanakan perubahan lingkungan adalah proses mempersiapkan kelas atau lingkungan dalam menghadapi perubahan-perubahan situasi. Misalnya, peserta didik harus disiapkan atas kemungkinan guru tidak dapat hadir selama beberapa hari dan akan digantikan oleh guru lain. Perencanaan yang disiapkan sebelumnya akan membantu peserta didik memahami hal itu dan akan brperilakau sesuai yang direncanakan guru. Dengan demikian, timbulnya masalah manajemen kelas dapat dicegah sejak dini.
Merencanakan dan mengubah lingkungan kelas adalah proses penciptaan lingkungan yang menyenangkan dan tertib. Kegiatan ini dimaksudkan memaksimalkan pruduktifitas dan meminimalkan perilaku menyimpang, dan dirancang dengan baik. Merencanakan dan mengubah lingkungan kelas diperlukan untuk mencegah atau mengurangi jenis-jenis perilaku tertentu yang tidak diinginkan.
Mengatur kembali struktur situasi adalah strategi manajerial kelas dalam memulai suatu kegiatan atau mengerjakan tugas dengan cara yang lain cara yang berbeda. Mengubah sifat kegiatan, mengubah sifat perhatian, atau menggunakan cara baru untuk mengerjakan hal-hal lama akan efektif mencegah timbulnya masalah manajarial kelas, khusunya yang bersumber pada perasaan bosan.

2.3 Prinsip-Prinsip Intruksional
Prinsip-prinsip yang digunakan dalam pengembangan instruksional dapat dikelompokan menjadi dua belas macam (Filbeck, 974:9-17) sebagai berikut:
1. Respon-respon baru (new responses) diulang sebagai akibat dari respon tersebut. Bila respon itu berakibat menyenangkan, siswa cenderung untuk mengulang respon tersebut karena ingin memelihara akibat yang menyenangkan. Bila akibat respon itu kurang menyenangkan, siswa cenderung mencari jalan yang dapat mengurangi rasa tidak menyenangkan tersebut dengan cara menghindari respon yang sama atau melakukan perilaku (behavior) yang lain.
2. Perilaku tidak hanya dikontrol oleh akibat dari respon, tetapi juga dibawah pengaruh kondisi atau tanda-tanda yang terdapat dalam lingkungan siswa. kondisi atau tanda-tanda tersebut berbentuk tulisan, gambar, komunikasi verbal, keteladanan guru, atau perilaku sesama siswa.
3. Perilaku yang ditimbulkan oleh tanda-tanda tertentu akan hilang atau berkurang frekuensinya bila tidak diperkuat dengan pemberian akibat yang menyenangkan. Karena itu pengetahuan dan keterampilan baru yang telah dikuasai siswa harus sering dimunculkan dan diberi akibat yang menyenangkan agar keterampilan baru itu selalu digunakan.
4. Belajar yang berbentuk respon terhadap tanda-tanda yang terbatas akan ditransfer kepada situasi lain yang terbatas pula.
5. Belajar mengeneralisasikan dan membedakan adalah dasar untuk belajar sesuatu yang kompleks seperti pemecahan masalah.
6. Status mental siswa untuk menghadapi pelajaran akan mempengaruhi perhatian dan ketekunan siswa selama proses belajar.
7. Kegiatan belajar yang dibagi menjadi langkah-langkah kecil dan disertai umpan balik untuk penyelesaian setiap langkah akan membantu sebagian besar siswa.
8. Kebutuhan memecahkan materi pelajaran yang kompleks menjadi kegiatan-kegiatan kecil akan dapat dikurangi bila materi belajar yang kompleks itu dapat diwujudkan dalam suatu model.
9. Keterampilan tingkat tinggi seperti keterampilan memecahkan masalah adalah perilaku kompleks yang terbentuk dari komposisi keterampilan dasar yang lebih sederhana.
10. Belajar cenderung lebih cepat dan efisien serta menyenangkan bila siswa diberi informasi bahwa menjadi lebih mampu dalam keterampilan memecahkan masalah. Orang cenderung belajar lebih cepat bila diberi informasi tentang kualitas penampilannya dan bagaimana cara meningkatkannya lebih baik.
11. Perkembangan dan kecepatan belajar siswa bervariasi, ada yang maju dengan cepat, ada yang lebih lambat. Variasi dalam kecepatan belajar itu tidak selalu dapat diramalkan. Hasil tes intelegensi, gaya kognitif, dan minat atau sikap untuk belajar tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap variasi tersebut.
12. Dengan persiapan, siswa dapat mengembangkan kemampuan mengorganisasikan kegiatan belajarnya sendiri dan menimbulkan umpan balik bagi dirinya untuk merespon yang benar.

2.4 Metode Instruksional
Salah satu komponen utama pada strategi instruksional di luar urutan kegiatan instruksional adalah metode instruksional. Metode instruksional berfungsi sebagai cara dalam menyajikan (menguraikan, memberi contoh, dan memberi latihan) isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Berbagai metode berikut ini biasanya digunakan pengajar dalam kegiatan instruksional.
1. Metode ceramah (Lecture)
Sumantri dan Permana (l998/l999) menyatakan bahwa metode ceramah adalah cara mengajar yang paling popular dan banyak dilakukan oleh guru. Hal ini karena metode ceramah mudah disajikan dan tidak banyak memerlukan media. Metode ceramah adalah penyajian pelajaran oleh guru dengan cara memberikan penjelasan secara lisan kepada siswa. Penggunaan metode ceramah sangat tergantung pada kemampuan guru. Penguasaan guru terhadap materi pelajaran, kemampuan berbahasa, intonasi suara, penggunaan media, dan variasi gaya mengajar lainnya sangat menentukan keberhasilan metode ini.
2. Metode Demonstrasi
Sanjaya (2006), dan Sumantri dan Permana (1998/1999) mengemukakan bahwa demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan pada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari baik dalam bentuk sebenarnya maupun dalam bentuk tiruan yang dipertunjukkan oleh guru atau sumber belajar lain yang ahli dalam topik bahasan yang harus didemonstrasikan.
3. Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah cara penyampaian suatu pelajaran melalui interaksi dua arah dari guru kepada siswa atau dari siswa kepada guru agar diperoleh jawaban kepastian materi melalui jawaban lisan guru atau siswa. Dalam metode tanya jawab, guru dan siswa sama-sama aktif. Siswa dituntut untuk aktif agar mereka tidak tergantung pada keaktifan guru. Rasa ingin tahu anak usia SMA harus ditumbuh-suburkan agar ia menjadi manusia yang kreatif. Untuk itu guru harus menguasai keterampilan bertanya dan juga harus mempunyai semangat yang tinggi didalam menciptakan situasi yang kondusif bagi terlaksananya tanya jawab yang mendidik.
4. Metode Diskusi
Sanjaya (2006), dan Sumantri dan Permana (1998/1999) menyatakan bahwa metode diskusi diartikan sebagai siasat untuk menyampaikan bahan pelajaran yang melibatkan siswa secara aktif untuk membicarakan dan menemukan alternatif pemecahan suatu topik bahasan yang bersifat problematis. Dalam percakapan itu para pembicara tidak boleh menyimpang dari pokok pembicaraan yaitu masalah yang ingin dicarikan alternatif pemecahannya. Dalam diskusi ini guru berperan sebagai pemimpin diskusi, atau guru dapat mendelegasikan tugas sebagai pemimpin itu kepada siswa, walaupun demikian guru masih harus mengawasi pelaksanaan diskusi yang dipimpin oleh siswa itu. Pendelegasian itu terjadi kalau siswa dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok diskusi. Pemimpin Diskusi harus mengorganisir kelompok yang dipimpinnya agar setiap anggota diskusi dapat berpartisipasi secara aktif.
5. Metode Studi Mandiri
Berbentuk pelaksanaan tugas membaca atau penelitian oleh siswa tanpa bimbingan atau pengajaran khusus.
6. Metode Instruksional terprogram
Metode ini menggunakan bahan instruksional yang disiapkan secara khusus. Isi pelajaran didalamnya harus dipecah menjadi langkah-langkah kecil, diurut dengan cermat, diarahkan untuk mengurangi kesalahan, dan diikuti umpan balik dengan segera.
7. Metode Latihan dengan Teman
Metode ini memanfaatkan seorang siswa yang telah lulus dalam latihan tertentu untuk bertindak sebagai pelatih bagi siswa yang lain.
8. Metode Simulasi
Abimanyu dan Purwant (1980), Sumantri dan Permana (l998/l999) menyatakan bahwa metode pembelajaran digunakan untuk menirukan keadaan sebenarnya kedalam situasi buatan, misalnya seorang guru mensimulasikan bagaimana cara melompat tinggi dengan gaya panggung atau bagaimana seorang penatar P4 mensimulasikan kehidupan masyarakat Pancasila, dimana setiap peserta penataran ada yang berperan sebagai lurah/RW/RT dan anggota masyarakat yang kesemuanya berperan secara sungguh-sungguh seperti yang dialami dalam kehidupan sosial di kelurahan itu.
9. Metode Sumbang Pendapat (Brain Storming)
Merupakan proses penampungan pendapat dari siswa tanpa evaluasi terhdap kualitas pendidikan.
10. Metode Studi Kasus
Berbentuk penjelasn masalah kejadian, atau situasi tertentu, kemudian siswa ditugaskan mencari alternative pemecahannya.
11. Metode Computer Assisted Learning (CAL)
Metode ini berbentuk seri kegiatan belajar yang sangat berstruktur dengan menggunakan computer. Isi pelajaran dimunculkan oleh computer dalam bentuk masalah.
12. Metode Insiden
Metode ini merupakan variasi dari metode studi kasusu. Siswa diberi data besar yang tidak lengkap tentang suatu peristiwa atau masalah.
13. Metode Eksperimen
Sagala (2006), Sumantri dan Permana (1998/1999) menyatakan bahwa eksperimen adalah percobaan untuk membuktikan suatu pertanyaan atau hipotesis tertentu. Eksperimen dapat dilakukan pada suatu laboratorium atau diluar laboratorium. Sedangkan metode eksperimen dalam pembelajaran adalah cara penyajian bahan pelajaran yang memungkinkan siswa melakukan percobaan untuk membuktikan sendiri suatu pertanyaan atau hipotesis yang dipelajari.
14. Metode Proyek (Pemberian Tugas)
Sagala (2006) mengemukakan bahwa metode pemberian tugas adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan cara memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar, dan kemudian hasil pelaksanaan tugas itu dilaporkan kepada guru.
15. Metode Bermain Peran
Metode ini berbentuk interaksi antara dua atau lebih siswa tentang suatu topik atau situasi.
16. Metode Seminar
Metode ini berbentuk kegiatan belajar bagi sekelompok siswa untuk membahas atau masalah tertentu. Setiap anggota seminar diharapkan berpartisipasi.
17. Metode Simposium
Metode ini mengetengahkan suatu isi ceramah mengenai berbagai kelompok topik bidang tertentu. Ceramah tersebut diberikan oleh beberapa ahli.
18. Metode Tutorial
Metode ini berbentuk pemberian bahan belajar yang telah dikembangkan untuk mempelajari siswa secara mandiri dan kesempatan berkonsultasi secara periodik tentang kemajuan dan masalah yang dialaminya.
19. Metode Deduktif
Metode ini dimulai dengan pemberian penjelasan tentang prinsip-prinsip isi pelajaran, kemudian disusul dengan penerapannya atau contoh-contohnya pada situasi tertentu. Metode ini bergerak dari yang bersifat umum ke yang bersifat khusuu.
20. Metode Induktif (Discovery)
Sund (dalam Kartawisastra, 1980) berpendapat bahwa penemuan adalah proses mental dimana siswa mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Sedangkan inquiry (inkuiri) menurut Sund meliputi juga penemuan. Dengan kata lain, inkuiri adalah perluasan proses penemuan yang digunakan lebih mendalam. Artinya proses inkuiri mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya : merumuskan masalah, merancang eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data,menarik kesimpulan, dan sebagainya. Akhirnya Sund berpendapat bahwa penggunaan metode penemuan baik untuk siswa kelas rendah, sedangkan inkuiri baik untuk kelas tinggi.

2.4 Aplikasi Pendekatan Instruksional Kepada Siswa SMA
Pendekatan instruksional pada dasarnya dirancang untuk memecahkan masalah-masalah yang ada dalam siswa. Ini berarti tujuan-tujuan instruksional yang hendak dicapai melalui model sistem instruksional yang dirancang harus sesuai dengan need (kebutuhan) siswa, berarti wewenang untuk menentukan tujuan (sistem) adalah siswa; wewenang untuk mengembangkan rancangan instruksional (sistem instruksional) adalah ahli pendidikan. Maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan analisis siswa, pengguna lulusan dan lingkungan mutlak dilaksanakan dalam pengembangan rancangan sistem instruksional.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Seorang guru adalah tenaga profesional yang berperan sebagai pengelola aktivitas yang harus bekerja berdasarkan pada kerangka acuan pendekatan manajemen kelas. Guru harus memiliki, memahami dan terampil dalam menggunakan bermacam-macam pendekatan dalam manajemen kelas supaya bisa menyesuaikan sehingga dapat mengangani kasus manajemen kelas yang tepat dengan masalah yang dihadapinya.
Pendekatan instruksional pada dasarnya dirancang untuk memecahkan masalah-masalah yang ada dalam siswa. Ini berarti tujuan-tujuan instruksional yang hendak dicapai melalui model sistem instruksional yang dirancang harus sesuai dengan need (kebutuhan) siswa, berarti wewenang untuk menentukan tujuan (sistem) adalah siswa; wewenang untuk mengembangkan rancangan instruksional (sistem instruksional) adalah ahli pendidikan. Maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan analisis siswa, pengguna lulusan dan lingkungan mutlak dilaksanakan dalam pengembangan rancangan sistem instruksional.

































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar